Renungan (jujur)

KEJUJURAN

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS.At-Taubah: 119)

Ayat 119 dari surat at-Taubah ini menunjukan keutamaan kebenaran, ketinggian derajatnya dan dorongan untuk melakukanya. Ya ayyuhalladziina aamanu, Hai orang-orang yang beriman, baik ucapan maupun pembenaran. Ittaqullaha, bertaqwalah kepada Allah, menjauhlah dan pelihara diri dari perkara yang tidak diridhai Allah. Wa kunu ma’ash shaqidin, dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar dalam segala tindakan. Yakni, Jadilah kalian bersama kelompok shadiqin, bersama mereka atau sebagian dari mereka, orang-orang yang mengatakan kebenaran  dan mengamalkannya.

Dalam at-Ta’wilatun Najmiyyah dikatakan:”Dan hendaklah engkau bersama orang-orang yang benar”, yaitu orang yang pada hari perjanjian, jujur dan benar dalam memberikan jawaban kepada Allah S.w.t Ketika mereka ditanya: Bukankah Aku Rabb kalian?’ Mereka menjawab:’Benar!’ Mereka berlaku benar kepada Allah atas apa yang mereka janjikan kepada-Nya,yaitu untuk tidak beribadah selain kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga dari tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi.Mereka mengosongkan diri dari setiap hal yang barubahkan dari wujud dirinya.”

Dikatakan dalam tafsir Ruhul Bayan,”pegang teguhlah kebenaran, baik dalam niat maupun dalam perbuatan. Niat dan berbuat itu perpulang pada keikhlasan. Bila ia telah berlaku jujur dalam segala aspek, barulah ia disebut shiddiq yang sejati. Shiddiq dan mukhlis bermaksud sama, yaitu keterlepasan dari campuran penipuan. Setiap shiddiq dan mukhlash berarti bebas dari ajakan nafsu.
 As-Syaikh Qusyairi berkata :”Shiddiq (benar) adalah tiang semua perkara. Dengannya perkara menjadi sempurna. Di dalamnya perkara menjadi tersusun rapi. Kebenaran yang mengiringi derajat kenabian. Kejujuran dapat dikatakan sebagai suatu sikap keberanian diri untuk mengungkapkan kebenaran, secara apa adanya tanpa ditutupi atau dikurangi sedikitpun. Kejujuran dalam pengertian kebenaran, merupakan bagian tak terpisahkan dari keimanan dan ketaqwaan. Tiada arti keimanan tanpa kejujuran didalamnya. Kebenaran yang harus diperjuangkan itu sebenarnya dapat mencakup berbagai hal, yaitu dalam keyakinan (hati), perkataan (lisan), perbuatan, dan sikap. Allah S.w.t berfirman: “Hai  orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. “(Qs.Al-Ahzab[33]:70)
Kejujuran seseorang yang beriman akan menunjukkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.Maka ilmu yang diusahakannya tidak hanya untuk disampaikan kembali pada orang lain tetapi dari pengetahuannya itu juga berusaha untuk diamalkan. Sebagaimana Allah telah berfirman:’’hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat “(QS.As-Saff[61]:2)

Seorang yang memiliki kejujuran meyakini sepenuhnya bahwa segala apa yang dikatakannya dan diperbuatnya, kecil atau besar, kelak diakhirat semua pasti akan dipertanggung jawabkannya dihadapan Allah Swt. Firman Allah :Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”(Qs.al-Muddatsir:38)


Kejujuran itupun lahir dari suatu keyakinan  akan pengawasan Allah terhadap dirinya, dalam keadaan apapun dia merasa Allah itu melihatnya, karena memang demikian adanya. Allah S.w.t berfirman:Allah senantiasa bersama kamu sekalian dimanapun kamu berada.”(Qs.al-Hadid:4)  Dan bahkan bagi Allah, semuanya memang menjadi tampak, tiada yang tersembunyi dimanapun, firman-Nya:sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit.”(Ali imran:5)


Tiada sesuatupun yang dapat menutupi pandangan Allah, sekalipun itu tersembunyi dibalik tatapan mata atau dalam hati yang terdalam. Firman Allah:”Dia mengetahui (pandangan mata) yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Qs.al-Mu’min: 19).Maka tiada kebaikan bagi seseorang dihadapan Allah, kecuali senantiasa disertai dengan kejujuran dan kebenaran dalam apapun yang dilakukannya. Dari Ibnu Mas’ud r.a. dari Nabi Sa.w, beliau bersabda:”Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis  di sisi Allah sebagai pendusta.”(HR.Bukharii dan Muslim)


Firman Allah:Dan orang-orang yang benar baik laki-laki maupun perempuan… Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”(al-Ahzab:35)Dalam suatu hadits Rasul bersabda: Para pedagang pada hari kiamat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang fujjar (jahat) kecuali orang yang taqwa kepada Allah, berbuat baik dan berbuat benar (HR.Darimi)


Al-fujjaru jamak dari fajirun, artinya orang yang suka membangkitkan gairah melalui tarian dan perbuatan haram. Para pedagang disebut fujjar karena dalam jual beli terdapat sumpah palsu, tipuan,pengurangan (timbangan), dan riba yang dilakukan oleh salah seorang mereka. Maka pedagangsebaiknya berbuat jujur dalam harga, dia tidak juga menjual barangnya dengan sumpah palsu. Sebab dengannya maka Allah akan menghilangkan berkah dari harga penjualan. Rasul bersabda:’’Usaha terbaik adalah usaha pedagang yang apabila berkata tidak berdusta, bila diberi kepercayaan tidak khianat, dan bila berjanji tidak mengingkari, bila membeli tidak mencela, bila menjual tak memuji, bila mereka punya kewajiban tak memperlambat dan bila mereka punya piutang tak menyusahkan orang yang berutang.”(HR.Baihaqi)


Dari Abu Khalid Hakim bin Hizam r.a,ia masuk islam sewaktu pembukaan kota Makkah,  ayahnya termasuk tokoh Quraisy, baik zaman Jahiliyah maupun setelah masuk  Islam, ia berkata: Rasulullah S.a.w bersabda: “Dua orang yang berjual beli itu haruslah bebas memilih sebelum mereka berpisah. Apabila keduanya jujur dan berterus terang di dalam jual beli, maka keduanya akan mendapatkan berkah, apabila keduanya menyembunyikan dan dusta, maka jual belinya itu tidak akan membawa berkah. “(HR.Bukhari dan muslim)Lawan dari kejujuran adalah kebohongan atau dusta, baik sebagian atau sepenuhnya, yang tidak lain merupakan kedzaliman yang harus dijauhi, karena tidak hanya akan merugikan dirinya tetapi juga dapat merugikan oranglain. Firman Allah:Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang mengada-adakan dusta terhadaap Allah sedang ia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim’’ (qs.as-Shaff:7)


Ketidak jujuran dan kebohongan menunjukan sifat  orang munafik. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: ‘’Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta,bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat’’ (HR.Muslim)


Pada saat kini, kejujuran menjadi suatu yang penting ditengah berbagai bentuk kebohongan hampir dalam segala aspek kehidupan yang sudah menjadi hal biasa, bahkan boleh jadi menjadi sebab penting berbagai krisis yang terjadi. Kenyataan menunjukkan berbagai phenomena ketidak jujuran dalam masyarakat ternyata terjadi dalam berbagai aspek, dari mulai kehidupan politik, ekonomi dan dunia pendidikan, juga dalam keluarga. Dari mulai kebohongan(manipulasi) sejarah, kepalsuan intelektual dan ilmu pengetahuan, sampai perbuatan nyonteknya pelajar sekolah ketika test(ulangan) berlangsung.Padahal kepercayaan itu akan hadir karena adanya kejujuransebagaimana telah dicontohkan Rasullulah sebagai seorang yang terpercaya oleh kaumnya(al-amin). Kedustaan akan membuat oranglain senantiasa ragu kepada kita dan kepastian hidup menjadi sirna berganti dengan kegelisahan. Hanyalah melalui kejujuran, maka kedamaian dan ketenangan akan di dapat, baik bagi dirinya maupun untuk oranglain .  Nabi saw bersabda:”tinggalkanlah apa yang kamu ragukan. Sesungguhnya jujur itu menimbulkan ketenangan dan dusta itu menimbulkan kebimbangan. “(HR.Tirmidzi)


Ketidak jujuran yang dapat menjadi sumber segala krisis berdampak merebaknya berbagai bentuk ketidak adilan,  munculnya KKN dan pengrusakan moral generasi penerus. Dengan budaya dusta (ketidak jujuran) menyebabkan sering terjadinya ketidak pastian dalam keputusan, ketidak jelasan sejarah, kesamaran antara haq dan bathil (keraguan),menghilangkan kepercayaan, hancurnya tatanan hukum dan kekuasaan yang jauh dari kebenaran. Dan akhirnya menjadikan ancaman masa depan (dari keselamatan) karena warisan pendahulu yang sarat dengan kebohongan tersebut. 


Perhatikan sabda Rasulullah saw:”hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kebajikan dan kebajikan membawa ke surga selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat disisi allah seorang yang benar (jujur). Hati hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka. Selama seorsng dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta(pembohong) “ (HR.Bukhari)



Sumber : www.asepdadan-10.blogspot.co.id.

Komentar